/
/
headlinehukum-peristiwaLebong

Pekerjaan Cacat Mutu, Kredibilitas Konsultan Perencanaan Diragukan

374
×

Pekerjaan Cacat Mutu, Kredibilitas Konsultan Perencanaan Diragukan

Sebarkan artikel ini
ambruk

GO BENGKULU, LEBONG – Masih ingat dengan drainase di Desa Sungai Gerong – Selebar Jaya, Kecamatan Amen, yang ambruk beberapa waktu lalu? Pantauan di lapangan, pasca kejadian tersebut progres pekerjaan masih berjalan dan tampak sebagian dinding drainase yang ambruk sudah diperbaiki oleh pihak rekanan dan ada juga yang masih dibiarkan begitu saja.

Terkait hal itu, Plt. Kepala Dinas PUPR-Hub, Joni Prawinata, melalui Kepala Bidang Bina Marga, Haris Santoso, memastikan, pihak rekanan akan segera memperbaiki bangunan yang ambruk tersebut. Kendati kualitas bangunan tampak kurang baik dan banyak yang retak-retak, pria yang akrab disapa Toso ini mengklaim proyek yang dikerjakan oleh CV TEKNIK KUALIVA ENGINEERING itu sudah sesuai dengan spesifikasi kontrak yang sudah disepakati bersama.

“Kalau masalah ambruk itu kemarin karena faktor bencana dan ada juga pengaruh kendaraan material yang lalu lalang di dekat bangunan yang belum selesai,” ujar Toso, Rabu (27/10/2021).

drainase ambruk

Disentil terkait perencanaan yang kurang baik, Toso berkilah. Dia mengklaim konsultan perencanaan telah bekerja sesuai dengan ilmu teknik dan kajian yang matang. Menurutnya, konsultan perencanaan pasti punya alasan tersendiri dan tentunya sudah melalui kajian teknis dan pengalaman yang mereka (Konsultan perencanaan, red) punya.

“Tidak ada yang salah dalam perencanaan, dibuat demikian tentu ada kajian teknis tersendiri,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, sebelumnya sesuai dengan perencanaan awal pada bangunan tersebut terdapat koperan di salah satu sisinya. Tapi setelah dikaji ulang, pihaknya menilai koperan sebelah itu tidak akan menambah mutu kekuatan bangunan. Atas dasar itulah pihaknya melakukan CCO (Perubahan kontrak) dan menyepakati konstruksi diubah menjadi model huruf U (Dinding kiri kanan tegak lurus + lantai tanpa fondasi, red).

“Kita CCO pada 11 September lalu, hasilnya kita sepakat tiadakan koperan seperti yang direncanakan sebelumnya. Kami  menilai koperan tersebut tidak begitu berfungsi dan juga dikhawatirkan akan sulit untuk kami kontrol apakah memang dibuat oleh pekerja apa tidak,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, salah satu pemuda Lebong, Riko Antonius, berpendapat, jika bangunan tersebut dilanjutkan dengan teknis yang dikerjakan saat ini, sudah bisa dipastikan bangunan akan cacat mutu. Bahkan dia meragukan kredibilitas PT WIYATA KARYA KONSULTAN selaku konsultan perencanaan yang menurutnya seolah menjebak pihak rekanan agar kualitas pekerjaan yang dihasilkan tidak baik.

“Masa konsultan perencanaan dak ngerti, kan lucu, atau jangan-jangan memang ada unsur kesengajaan,” cetusnya.

Lanjutnya, Jika dibuat model U (Dinding tegak lurus, red) maka dinding harus dicor kemudian harus ditambah dengan stang di atasnya agar lebih kuat.

“Tentunya dengan sistem ini biaya akan lebih mahal,” tuturnya.

Jika tidak mau pakai sistem cor, menurut Riko bisa juga dengan sistem susun batu tapi bangunan harus dibuat model trapesium dengan catatan 1/3 (sepertiga, red) dari tinggi dinding bangunan harus ditanam di bawah dasar lantai agar tidak mudah ambruk.

“Kalau mau hemat, iya dengan sistem susun batu tapi modelnya harus dibuat seperti trapesium agar dinding bangunan tidur di dinding tanah,” bebernya.

Informasi terhimpun, dimensi drainase yang sedang dibangun tersebut meliputi, tinggi 1 meter dari lantai, lebar dalam 1 meter, tebal lantai 20 cm. Kemudian tebal dinding di sisi jalan 30 cm, sementara tebal dinding di sisi rumah warga 20 cm, panjang drainase sekitar 1,7 km. (FR)

Baca juga:

Belum 1 Bulan, Drainase PUPR Lebong Ambruk

ambruk

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *