/
/
headlinehukum-peristiwaLebong

Ikuti Spek Dinas PUPR, Bangunan Ambruk

361
×

Ikuti Spek Dinas PUPR, Bangunan Ambruk

Sebarkan artikel ini
drainase

GO BENGKULU, LEBONG – Drainase di Desa Sungai Gerong – Selebar Jaya, Kecamatan Amen, yang ambruk pada Minggu (17/10) lalu, diduga kuat gagal dalam perencanaan dan diduga ada unsur kesengajaan untuk menekan anggaran.

Dikatakan demikian bukan tanpa alasan, berdasarkan pengakuan dari pihak kontraktor yang mengerjakan fisik pekerjaan tersebut, pihaknya telah mengerjakan sesuai dengan spesifikasi yang tertera pada gambar yang sudah disepakati bersama dengan Dinas PUPR. Dia mengaku jika berpedoman pada gambar, bangunan drainase tersebut memang tidak ada fondasi dan strukturnya seperti huruf “U” (Dinding kiri kanan dan lantai, red).

“Kami mengerjakan sesuai dengan gambar, dan di gambar memang tidak ada fondasi,” ujar pelaksana lapangan CV TEKNIK KUALIVA ENGINEERING, Yanto.

Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Plt. Kepala Dinas PUPR-Hub, Joni Prawinata, bahwa bangunan drainase yang dibuat oleh pihak rekanan itu sudah sesuai dengan gambar yang ada. Diakuinya, pada gambar memang tidak terdapat fondasi.

“Sudah sesuai dengan gambar, kami juga selalu mengingatkan agar struktur bangunan dibuat sebaik mungkin,” kata Joni.

drainase ambruk

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR-Hub Lebong, Haris Santoso, ST, menurutnya, fondasi dibuat hanya untuk konstruksi rumah atau pagar keliling, atau bisa disimpulkan drainase tidak memerlukan fondasi.

“Pondasi maksud nu uku coa paham, mungkin udi lebiak paham, pondasi untuk bangunan umeak pribadi atau pagar keliling,” tulisnya dalam pesan whatsapp dengan menggunakan bahasa daerah yang berarti, pondasi maksud kau aku tidak paham, mungkin kamu lebih paham, pondasi untuk bangunan rumah pribadi atau pagar keliling.

Terkait hal itu, salah satu pemuda Lebong, Riko Antonius, angkat bicara. Menurutnya pembangunan tersebut gagal dalam perencanaan. Dia menjelaskan, teknis pembangunan drainase di tepi jalan ada 2 macam, yakni model “U” dan model trapesium. Jika dibangun model “U” maka bangunan tidak memerlukan fondasi dengan catatan struktur bangunan (Dinding dan lantai, red) harus menggunakan cor beton.

drainase ambruk

Kemudian ada juga model trapesium, menurutnya, jika drainase tepi jalan dibuat model trapesium, maka drainase tersebut dibuat dengan sistem susun batu. Lebih jauh dia menjelaskan, dengan sistem susun batu juga ada teknis yang harus diikuti, yakni, 1/3 dari tinggi bangunan harus ditanam atau bahasa awam lebih dikenal dengan istilah fondasi.

“Seharusnya dalam perencanaannya sudah dikaji, struktur tanahnya seperti apa, kalau tanahnya labil berlumpur seperti itu seharusnya konsultan juga tahu konstruksi seperti apa yang akan diterapkan,” cetusnya, Selasa (26/10/2021).

Lebih jauh dia juga membeberkan, memang ada drainase yang dibangun tanpa fondasi, tapi harus dilihat dulu dimensi dan struktur tanah tempatnya berdiri itu seperti apa. Jika dimensinya kecil dan struktur tanah tempatnya berdiri kuat/padat, mungkin sah-sah saja dibuat tanpa fondasi. Tapi jika struktur tanahnya labil maka seharusnya menggunakan fondasi atau bisa juga menggunakan cerucuk.

“Kalau cuma ditarok saja, terus disusun batu di atas lumpur jelas roboh lah. Menurut saya Dinas PUPR harus segera mengambil tindakan atas kejadian ini agar tidak  terbentur hukum dikemudian hari,” tandasnya.

Pantauan di lapangan, sejak viralnya pemberitaan terkait drainase yang ambruk pada minggu lalu itu, sejumlah pekerja tampak sepi di lapangan dan kabarnya distop untuk sementara. Tampak juga beberapa titik bangunan yang ambruk belum juga diperbaiki. (FR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *