/
/
headlineLebong

13 Orang KPM PKH di Lebong Mengundurkan Diri

147
×

13 Orang KPM PKH di Lebong Mengundurkan Diri

Sebarkan artikel ini
13 orang kpm pkh graduasi mandiri
KPM Graduasi menunjukkan surat pengunduran diri yang ditandatangan di atas materai

GO BENGKULU, LEBONG – Satu kelompok yang terdiri dari 13 orang Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH) di Desa Gandung, Kecamatan Lebong Utara, garuduasi (mengundurkan diri/keluar) secara mandiri. Penguduran diri ini kabarnya atas kemauan (KPM, red) sendiri dengan pertimbangan sudah lama menjadi KPM dan ingin memberi kesempatan kepada warga lain yang juga membutuhkan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH Kabupaten Lebong, Sri Utami, SE. Tiga belas orang tersebut menurutnya graduasi secara mandiri tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Mereka juga telah menandatangani pernyataan di atas materai bahwa itu (Pengunduran diri, red) adalah kemauan sendiri.

“Iya memang ada hari Rabu (7/4) kemarin. Satu kelompok yang terdiri dari 13 orang mengundurkan diri secara serentak atas kemauan sendiri,” kata Sri, saat dikonfirmasi awak gobengkulu.com, Kamis (8/4).

Sri juga menjelaskan, berhasil mengarahkan KPM untuk graduasi secara mandiri merupakan prestasi bagi pendamping PKH. Diakui Sri, pihaknya memang diinstruksikan dari pusat untuk memberi pengertian kepada KPM PKH yang sudah lama kepesertaannya agar dapat melakukan graduasi secara mandiri untuk memberi kesempatan kepada warga lain yang juga membutuhkan.

“Se Indonesia kita dikasih kuota 10 juta KPM, tidak boleh lebih. Sementara, data yang terdaftar di DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) jumlahnya lebih dari itu. Kami sebisa mungkin dituntut untuk mengarahkan KPM yang sudah lama agar dapat melakukan graduasi secara mandiri agar yang lain juga dapat,” lanjut Sri.

Kendati demikian, Sri mengaku tidak pernah memaksa atau pun mengancam KPM agar keluar dari kepesertaannya. Pihaknya memberi pengertian dan membekali para KPM dengan ketrampilan agar bisa berusaha mandiri dan tidak lagi tergantung dengan bantuan Pemerintah.

“Kami tidak boleh memaksa, kami kasih pengertian dan kita sentuh hatinya agar bersedia memberi kesempatan kepada yang lain,” tandasnya. (YF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *