/
/
headlineLebong

Musim Paceklik, Berburu Buah Durian jadi Solusi

98
×

Musim Paceklik, Berburu Buah Durian jadi Solusi

Sebarkan artikel ini
petani durian

GO BENGKULU, LEBONG – Di tengah Pandemi Covid-19 yang serba sulit ini buah durian menjadi penyelamat bagi masyarakat Lebong. Saat ini di Kabupaten Lebong sedang masuk musim tanam, dimana saat masuk musim tanam biasanya ekonomi masyarakat sedang mengalami kesulitan alias musim paceklik. Di kondisi sulit seperti ini, tentu saja buah durian yang sudah mulai masak bak dewa penyelamat bagi masyarakat setempat.

Seperti yang diceritakan Reno, salah satu warga Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, yang saat ini menggantungkan ekonominya dari buah durian. Dia menyebut, saat ini sulit untuk mencari pekerjaan, mau kerja bangunan (proyek) saat ini proyek pemerintah banyak yang tidak jalan kerena Covid-19. Untung saja ada pohon durian yang saat ini sedang berbuah dan sudah mulai masak, sehingga dirinya bisa mencari buah durian lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Untung saja ada buah durian, kalau tidak entah mau makan dari mana. Mau cari kerja susah, padi juga baru tanam,” ungkapnya, Senin (18/1/2021).

Dia menceritakan, dirinya biasa mencari durian di malam hari, dalam satu malam dirinya bisa mendapat durian sebanyak 10 hingga 15 buah, tergantung dengan kondisi angin dan buah yang masak, apalagi saat ini buah yang masak masih sedikit.

“Tergantung, kadang banyak kadang dikit, tergantung angin dan buah yang masak, karena saya hanya mengambil buah yang masak dan jatuh sendiri,” imbuhnya.

Diungkapkannya, 1 buah durian dihargai berbeda-beda tergantung ukuran, ada yang harga Rp 10 ribu, ada juga yang Rp 15 ribu.

“Harga bervariasi, tergantung ukuran, tapi biasanya paling mahal Rp 15 ribu” tuturnya.

Lebih jauh beliau sangat menyayangkan, harga durian di Kabupaten Lebong cendrung lebih murah dibanding daerah lain. Buah yang berukuran  besar saja dihargai paling mahal Rp 25 ribu, itu juga kalau ukurannya besar dan isinya bagus. Kalau ukuran standar, biasa dihargai Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu, tidak sebanding dengan perjuangan dan risiko untuk mendapat durian itu sendiri. Dia berharap, kedepan pihak pemerintah bisa memfasilitasi untuk pemasaran agar harganya tidak terlalu mencekik leher petani.

“Seharusnya kita kompak untuk mempertahankan harga sesuai dengan kualitas, jangan berlomba-lomba hanya untuk menghabiskan jualan saja. Tapi kalau kita sendiri yang bertahan, jualan kita dak laku. Coba lihat daerah lain, durian kecil saja ada harganya. Atau misalkan ada semacam koperasi dari pemerintah yang menaungi kita untuk pemasaran agar kita tidak bingung mau jual kemana dan tidak ada monopoli harga,” cetusnya. (Pls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *