/
/
headlineLebong

Penyaluran Bansos Covid-19 Lamban, Bupati Naik Pitam

90
×

Penyaluran Bansos Covid-19 Lamban, Bupati Naik Pitam

Sebarkan artikel ini

GO BENGKULU, LEBONG – Lagi, kali ke dua Bupati Lebong H.Rosjonsyah, S.I.P., M.Si, naik pitam saat memimpin rapat terkait penanganan Covid-19. Sebelumnya beliau sempat naik pitam saat memimpin rapat persiapan penyaluran bansos dampak Covid-19 yang digelar sekira sebulan yang lalu (14/5) di gedung aula Setda Lebong. Kali ini di tempat yang sama kemarahan beliau kembali memuncak dan berapi-api saat memimpin rapat terkait persiapan mengahadapi new normal yang rencananya akan diberlakukan di Kabupaten Lebong awal Juli ini. Kemarahan Rosjonsyah bukan tanpa alasan, dia menilai OPD lamban dan terlalu kaku dengan aturan dalam penanganan bencana Covid-19. Menurutnya setiap kegiatan yang menggunakan uang negara memang harus sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku agar tidak melanggar hukum. Namun demikian, dirinya meminta untuk perkara penanganan bencana setiap OPD harus tanggap dan sigap terlebih lagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Dia meminta OPD jangan terlalu kaku menyikapi aturan dalam penanganan bencana apalagi hanya sekedar kelengkapan administrasi yang sifatnya tidak terlalu fatal dan dianggap bisa dilengkapi setelahnya.

 “Tolong bedakan perlakuan penanganan bencana dengan kegiatan biasa, jangan terlalu kaku dan jangan terlalu takut selagi uang yang dibelanjakan itu benar-benar untuk kepentiangan masyarakat dan tidak ada yang disimpangkan. Masa sampai dengan sekarang kita baru sekali menyalurkan bansos untuk masyarakat, itupun belum merata baru sebatas launching di Kecamatan Lebong Sakti saja selebihnya kapan, masyarakat menunggu kita,” cetus Rosjonsyah dengan nada tinggi, Selasa (23/6).

Bukan hanya penyaluran bansos yang terkesan lamban, pengadaan kelengkapan APD (alat pelindung diri) juga dinilainya begitu (lambat,red). Sebelumnya dia (Bupati,red) menginstruksikan untuk membeli 100 ribu pcs masker untuk dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma, tapi hingga hari ini perintah orang nomor satu di Kabupaten Lebong itu belum juga dikerjakan oleh OPD teknis yang ditunjuk yakni Dinas Kesehatan.

“Kita satu-satunya Kabupaten di Provinsi Bengkulu yang masih berada di zona hijau, kalau terus begini selalu lambat dan lalai, tidak menutup kemungkinan status Kabupaten Lebong juga akan berubah menjadi merah,” ungkapya.

Dia juga meminta kepada tim gugus tugas agar lebih memperhatikan personil yang berjaga di posko. Menurutnya, posko penjagaan di pintuk masuk Kabupaten Lebong adalah pertahanan pertama untuk mempertahankan zona hijau.

“Saya tegaskan, tolong lebih diperhatikan lagi tim yang berjaga di posko, mereka adalah benteng pertahanan pertama kita untuk mempertahankan zona hijau ini. Jangan biarkan mereka kelaparan dan kedinginan, kita enak aja tidur di rumah tolong pikirkan nasip mereka yang berjaga 24 jam. Jangan ditahan-tahan uangnya kan ada,” beber Rosjonsyah.

Lebih jauh Rosjonsyah menjelaskan, terkait keterlambatan pencairan usulan rencana kebutuhan untuk penangan Covid-19 yang diajukan oleh OPD yang kabarnya terkendala disposisi ketua gugus tugas (bupati,red) lantaran tidak berada di tempat, beliau menegaskan agar kedepan tidak menjadikan itu sebagai alasan. Menurutnya, kalau tidak ada ketua gugus, disposisi bisa digantikan oleh wakil ketua I dalam hal ini Kapolres.

“Jangan kaku dengan administrasi, saya bertanggungjawab penuh atas anggaran peanangan Covid-19 ini selagi dugunakan di jalan yang benar dan untuk kepentingan masyarkat. Kalau tidak ada saya kan ada wakil ketua I. Ingat ya, ketua I gugus tugas, bukan Sekda, ini bukan anggaran pemda tapi anggaran penanganan Covid yang hanya bisa dibelanjakan oleh tim gugus tugas untuk penanganan Covid-19, jadi disposisinya ketua gugus atau jika berhalangan bisa diwakilkan oleh wakil ketua I gugus tugas dalam hal ini dijabat oleh Kapolres Lebong,” terang Rosjonsyah.

Untuk diketahui, sejak merebaknya wabah Covid-19 semua kegiatan dan aktivitas masyarkat tidak berjalan normal. Banyak yang mendadak pendapatannya menurun bahkan ada yang mendadak pengangguran, tidak terkecuali hal demikian itu terjadi di Kabupaten Lebong. Sejak fenomena dunia ini melanda, Pemerintah Kabupaten Lebong baru satu kali menyalurkan bantuan sosial penanganan Covid-19 kepada masyarakat yang dananya bersumber dari refoscusing APBD yang nilainya tidak sedikit, yakni, Rp 22,98 miliar. Dari nilai tersebut, kabarnya baru sekitar RP 2,7 miliar saja yang sudah dibelanjakan untuk penanganan Covid-19, sisanya masih mengendap di rekening kas daerah (RKD). Penyaluran bansos penanganan Covid-19 berupa sembako baru disalurkan di Kecamatan Lebong Sakti saja, pada Senin (8/6) lalu. Sementara 11 Kecamatan lainnya hingga hari ini, Selasa (23/6) tersentuh sama sekali. (YF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *