Kelompok Tani Kepahiang Studi ke Cianjur

0
472

GO BENGKULU, KEPAHIANG – Sebanyak 60 orang ketua kelompok tani di Kabupaten Kepahiang direncanakan akan mengikuti studi banding ke daerah Cianjur, Jawa Barat. Dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang, Hernawan, peserta studi banding  adalah perwakilan dari 3 komoditi, yakni peternakan, tanaman pangan dan perkebunan. Direncanakan akan menghabiskan waktu selama 6 hari, dengan asumsi 4 hari di perjalanan PP (pulang pergi), kemudian 2 hari di lokasi. Menurutnya, dengan waktu 2 hari belajar di sana, sudah cukup untuk peserta mempelajari manajemen yang diterapkan kelompok tani setempat sehingga bisa maju.

“Kapan waktu berangkatnya kita belum putuskan, tapi diperkirakan bulan Februari ini. Berangkatnya lewat jalur darat, mungkin akan menghabiskan waktu selama 6 hari, 2 hari berangkat, 2 hari balik, dan 2 hari belajar di sana,” kata Hernawan, Jumat lalu, (28/1).

Lanjutnya, kalau masalah ilmu pertanian mungkin kelompok tani di Kabupaten Kepahiang tidak kalah dengan ilmu petani di daerah tujuan nanti (Cianjur), tapi yang perlu di pelajari adalah bagaimana manajemen yang diterapkan sehingga kelompok taninya bisa maju dan berkembang, bahkan terkait pemasarannya nanti. Daerah tujuan memang sengaja dicari dearah yang komoditinya lengkap, baik bidang peternakan, perkebunan maupun tanaman pangan sehingga semua bidang yang berangkat akan terpusat di satu wilayah.

“Kalau secara pengalaman bertani kita tidak kalah, tapi ada manajemen dan pola yang mereka terapkan, ataupun bagaimana pola pemasaran mereka yang mungkin kita belum ketahui,” tambahnya.

Untuk menjalankan program studi banding tersebut Hernawan mengaku telah menganggarkan sebesar Rp 150 juta. Dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 150 juta itu diharapkan peserta studi banding bisa menyerap ilmu di sana (Cianjur), kemudian diterapkan di sini.

“Di bidang peternakan kita akan belajar tentang sapi perah dan ayam buras (bukan ras), kemudian di bidang tanaman pangan, peserta akan mengunjungi petani yang menggalakan padi darat dan padi sawah yang IP (indek persentase penanaman) sudah 3 kali. Sementara di bidang perkebunan, peserta akan melihat petani kopi, tapi bukan bagaimana berkebun kopinya tapi bagaimana pemasaran atau pun pengolahannya sehingga lebih bernilai ekonomis,” jelasnya.

Hernawan juga berencana, di APBD-P tahun 2020 ataupun APBD 2021 nanti, pihaknya akan menganggarkan untuk kelompok tani untuk sapi perah, ayam buras dan pengolahan kopi.

“Mungkin dari hasil belajar di sana nanti, kita akan menerapkan di sini. Kita akan anggarkan untuk kelompok tani di APBDP 2020 atau di APBD 2021 nanti untuk usaha sapi perah, ayam buras dan pengolahan biji kopi menjadi serbuk,” tutupnya. (YF)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here