/
/
headlineLebong

Diserang Hama Tikus Program MT-II Gagal

45
×

Diserang Hama Tikus Program MT-II Gagal

Sebarkan artikel ini

Jumat, 14 September 2018
PEWARTA : BAMBANG.S

GO LEBONG – Program Mode Tanam II (MT–II) yang merupakan salah satu program unggulan Pemkab Lebong sepertinya belum menuai hasil, Seperti yang terjadi di Desa Semelako I, Kecamatan Lebong Tengah hampir 100 persen gagal panen.

Sumarni warga Desa Semelako I,Kecamatan Lebong Tengah, ketika dibincangi awak gobengkulu, Jumat (14/09) menceritakan hampir semua kami yang ikut tanam dua kali mengalami gagal panen,padi kami habis diserang hama tikus, rata-rata tikus mulai menyerang ketika padi masuk usia 2 bulan hingga menjelang padi mulai berisi.

“Lebih parahnya lagi satu bidang sawah milik kami bisa habis dalam beberapa  malam saja, tidak masuk di akal tapi itulah yang terjadi, terlepas dari mitos yang berkembang tapi saya lihat hama tikus ini sungguh luar biasa, tikusnya kecil-kecil tapi jumlahnya luar biasa mungkin mencapai ribuan,” papar Sumarni.

Lebih jauh lagi, Sumarni menceritakan segala upaya sudah dilakukan untuk membasmi hama tikus tapi tetap tidak membuahkan hasil. “Harapan kami pihak Pemerintah terkhusus Dinas Pertanian bisa menepati janjinya, kalau yang ikut program MT-II gagal panen, maka akan diberi kompensasi sebesar enam juta rupiah per hektare,” tutupnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan  Emi Wati,SE,M.Ak melalui Kabid Penyuluhan Jimi Tri Susilo,SP ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa program MT-II hampir gagal total, hal ini masih terus dipelajari dan sebagai pembelajaran kedepannya.

“Kalau saya lihat kegagalan ini tidak lepas dari Sosial Budaya yang melekat di masyarkat yang masih percaya dengan mitos dan tidak mau serentak mengikuti program MT-II sehingga memberi cela untuk hama tikus berkembang dan menyerang ke satu titik saja,” kata Jimi.

Faktor lain yang mempengaruhi, kata dia adalah iklim. Hama tikus lebih cepat berkembang di musim hujan sementara kita sama-sama tahu intensitas hujan di tahun 2018 ini cukup tinggi.

“Kalau masalah tekhnis, kami dari Dinas Pertanian sudah melakukan berbagai upaya, seperti menyiapkan bibit unggul, menyediakan pupuk, menyediakan herbisida dan insektisida tapi apa daya hasilnya tetap belum memuaskan,” imbunya.

Jimi berharap, dengan kejadian ini jangan menyerah dan harus tetap berusaha. Pihaknya akan selalu mencari inovasi baru untuk mengatasi masalah tersebut. Kepada para petani yang mengalami gagal panen lebih dari 75 persren jangan khawatir, yang ikut program MT-II sudah diikutsertakan Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP).

“Ketentuannya, apabila tanaman mengalami kerusakan atau kegagalan diatas 75 persen maka akan diberi kompensasi sebesar enam juta rupiah per hektare. Tapi harap bersabar karena harus melalui proses, kita data dulu, kemudian kita laporkan ke pihak asuransi. Kemudian mereka akan menurunkan tim survey baru hasilnya akan keluar setelah 45 hari,” pungkas Jimi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *