Perusahaan di Lebong Ini Bayar Upah Hanya Setengah UMP

0
762

PEWARTA : YOFING DT
SABTU 30 JUNI 2018

GO LEBONG – Sungguh miris kenyataan yang dialami oleh pekerja di PT Indo Arabica Mangku Rajo di wilayah transmigrasi Mangkurajo Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong. Pasalnya, pekerja di perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kopi itu hanya menerima upah sebesar Rp 30 Ribu per-hari.

Sedangkan Upah Minimum Propinsi Bengkulu tahun 2018 yang diumumkan pada november 2017 lalu, adalah sebesar Rp. 1.888.741 perbulan atau diatas Rp 60 Ribu perhari jika dibagi selama 30 hari perbulan.

Sudah tentu dengan minimnya upah tersebut menimbulkan keluhan dikalangan pekerja. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa Mangkurajo Saheri, dia sangat menyayangkan perusahaan yang mempekerjakan hampir 80 persen warga desa setempat tersebut belum mematuhi UU ketenagakerjaan.

“Seharusnya pihak perusahaan membayarkan upah sesuai dengan standar UMP. Namun kenyataannya sekarang yang dibayarkan hanya sebesar Rp 30 Ribu perhari. Sementara mereka harus bekerja selama tujuh jam setiap harinya mulai dari jam 07.00 pagi hingga jam 15.00 sore,” papar Kades.

Dibeberkan Kades, sekalipun masih sangat jauh dari kata mencukupi, apalagi sejahtera, warga setempat mau tidak mau terpaksa menerima lantaran sulitnya lapangan pekerjaaan. Untuk mundur bagi mereka tidak ada pilihan pekerjaan lain.

“Harapan saya ada perhatian dari pemerintah daerah untuk memfasilitasi dengan pihak perusahaan, supaya memenuhi kewajibannya terhadap pekerja agar memperoleh hak seperti layaknya pekerja disebuah perusahaan,” ungkap Saheri.

Ditemui secara terpisah, Manager PT. Indo Arabica Mangkurajo Yohanes, mengakui memang upah yang diterima pekerja belum memenuhi ketentuan UMP. Hal itu terjadi kata dia, karena perusahaan sedang mengalami defisit keuangan.

“Keuangan perusahaan dalam kedaan morat marit, cost biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pendapatan setiap tahunnya. Bagaimana kita mau mengikuti UMP kalau kondisi perusahaan seperti ini,” kilah Yohanes, sembari menyebutkan ia baru menempati jabatan tersebut yakni sejak juli 2017.

Dia berjanji akan berupaya untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan, supaya kedepan bisa memenuhi hak-hak pekerja sesuai dengan UMP yang berlaku di propinsi Bengkulu.

“Salah satu langkah yang saya ambil adalah mengalihkan pekerja harian lepas ke pekerja borongan, dimana penghasilan mereka tergantung dengan kinerja mereka. Sehingga kita tidak lagi membayar upah yang sia-sia, dan pekerja yang benar-benar bekerja akan mendapatkan imbalan yang setimpal,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, kondisi perusahaan mulai memburuk sejak tahun 2012 lalu, hingga sekarang kita belum mampu keluar dari permasalahan. Untuk sekarang keadaan sudah berangsur membaik walaupun belum sempurna.

“Yang paling kronis adalah masalah management dan ini menjadi PR saya semoga saja akan segera teratasi. Hal tersulit bagi saya, adalah tidak bisa menekan pekerja untuk meningkatkan produksi, mengingat hak-hak mereka belum mampu kita penuhi,” tutup Yohanes.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here